Jumat, 24 Oktober 2008

Resesi (rese, si!!!) >:@

Siapa sih yang gak kesel sama resesi ekonomi? Walaupun gw bukan seorang pengamat ekonomi, walaupun gw belum cukup dewasa untuk mengerti pentingnya membaca rubrik politik dan ekonomi di koran (biasa baca kartun doang), gw cukup terpukul keras gara2 resesi ekonomi, bahasa kerennya global economic recession. (haha)
gw terpukul, terpuruk, benjol dan bokek.

Iya, BOKEK. Gimana gak? Harga barang2 naek semua. Ada yg naek dikit, ada yg ngelunjak (kayak adek gw) Gw gatau orang2 laen mengalami hal ini gak, kayaknya sebagian besar tenang2 aja tuh :S Gw ngiri deh sama orang2 yg hidupnya gak terpengaruh. Kebanyakan duit kali ya? Mending kasih gw aja sini napa?
Emang dunia itu nggak adil, bo!

Gw baca sebuah rubrik di koran yg ngebahas soal resesi ekonomi global ini. Sang reporter mewawancara beberapa orang dari berbagai kalangan yg berbeda background (latar belakang) dan mata pencahariannya (otomatis pendapatannya jadi beda juga)

Gw gatau harus syok ato harus biasa aja.
Pokoknya orang yg miskin itu paling ngerasain bedanya. Mereka ada yg ketakutan kehilangan pekerjaan, yg menimbulkan domino efek berupa anak2nya gak bisa sekolah, sekeluarga gak bisa makan dan mungkin terpaksa jual rumah dan tidur di MRT station, ato pura2 jadi monyet dan tidur di zoo dan makan pisang ama kacang tiap hari. (kok mirip gw ya? gw juga makan pisang&kacang, gw cerdas kayak simpanse, gw tidur di 'zoo' yg mirip penjara bagi hewan2 muda yg pintar namun tak berdaya melawan sistem yg ada...hiks hiks hiks mungkin inilah yg namanya 1st world poverty. gak ngerti? liat GP notes gw. dots dots dots ^^')

Gw kasian ama mereka. Hidup itu emang gak adil. Itu penderitaan golongan low income (pendapatan relatif rendah), maksudnya yg kerja 'kasar' (tukang bersih2 gitu, dll) , makanya tangannya kasar, sering diperlakukan kasar, pendapatannya bener2 kasar dan nasibnya kasar banget...

Golongan menengah cukup terpengaruh, walaupun gak sebesar golongan bawah. Ada yg rencana pernikahannya harus ditunda, bulan madunya dipendekin dan budgetnya dikurangin drastis, ada yg tadinya mau punya anak gak jadi gara2 biayanya (ingat, beli kondom itu jauh lebih murah, lebih aman dan lebih praktis daripada bikin anak tanpa direncanakan matang2. Practise safe sex. ;) wink! Play safe play smart ;) wink! ) tapi setidaknya kelaparan bukan ancaman utama mereka. Cuma mereka takut kehilangan pekerjaan juga sih (siapa tau bos kantornya lebih milih mempekerjakan komputer daripada manusia)

Nah, golongan yg pendapatannya tinggi (high income group) kebanyakan ga terpengaruh. Bisnis mereka tetep jalan, mereka dapat pendapatan tetap (highly unlikely untuk kehilangan pekerjaan) dan hidup mereka seneng2 aja. Kalo mau beli apa2 ga harus putar otak 7 kali, ga harus tarik napas dalam2 10 kali dan ngitung dari 0 sampe -100, ga perlu takut bokek, ga terancam kelaparan ato terlilit hutang apalagi sampe kehilangan rumah. Beberapa malah masih bisa 'bersosialisasi' (you know, acara2 gak penting yg penuh dengan percakapan dan pastinya biayanya gak sedikit)

Golongan yg terakhir ini emang ada, walaupun gw sendiri emang sulit untuk percaya. Masa iya sih? harga barang naek2 kepuncak gunung, tinggi2 sekali... kayak gini mereka ga bergeming juga... ngiri sih iya... tapi emang ada bukti2nya kok. Mal2 di orchard banyak yg diupgrade. Artinya developernya emang ga bakal kehabisan resource (baca: kapital/duit) dan yg bikin pasti optimis ada calon konsumer yg gak perlu ngirit dan mampu untuk beli barang yg lebih mahal (karena biasanya makin bagus tempatnya, makin mahal harganya, ya ga?)

Trus ada juga orang2 yg menemukan peluang bisnis baru di tengah2 kekacauan dunia kayak gini. hahaha. Entah mereka emang pinter banget, punya jiwa bisnismen yg jeli ngeliat situasi dan gak habis akal, ato mereka licik, bagaikan serigala berbulu domba yg bisa bersenang2 di atas luka orang laen. Gw ga tau yg bener yg mana, dan gw bukan dalam posisi yg tepat untuk menjudge mereka.

Hhh... tapi tetep aja resesi ini mencekik seorang anak muda yg keren dan hebat seperti gw, dan anak ini terancam kepunahan!!!

Tapi kalo dipikir2 di dunia ini, biarpun katanya manusia telah melalui berbagai peradaban sehingga seharusnya semakin beradab namun kenyataannya masih banyak yang biadab, hukum rimba, hukum yg dipercaya sebagai hukum para binatang yg menandakan primitive lifestyle alias absennya struktur peradaban (aduwh...kata2nya cheem banget....gw aja bingung bacanya)
masih berlaku. Maksud gw, hukum rimba masih berlaku. Masih banget. Benar2 berlaku.

Pokoknya hukum rimba itu kurang lebih begini : yg lebih kuat menang.
contoh: kalo maen panco ato tinju, yg lebih kuat menang, yg lebih lemah ya kalah (baca: babak belur, bonyok, terluka, dll)
Terus hukum rimba itu terkait sama hukum evolusinya mas Charles Darwin (maaf ya mas, walaupun mas bukan orang jawa, tapi menurut gw lebih terhormat dibilang mas daripada Mbah, kesannya kayak dukun gitu) Charles Darwin mengusulkan teori "survival of the fittest" yg berarti yg lebih fit yang menang.
contohnya: kalo gw ama elo ngeliat duit di tengah jalan, yg bakal dapet duit ialah yg larinya lebih cepet dan duluan ngambil duitnya.

Hukum rimba dan hukum Darwin terdengar kejam...kayak gak ada belas kasihan gitu, tapi kenyataannya itulah yg terjadi sehari2 di sekitar kita. Masalahnya mungkin di hukum rimba, yg lebih kuat biasanya diasosiasikan dengan yg badannya lebih besar. (contohnya kalo singa dewasa berantem ama bayi domba, jelas aja yg kedua kalah) Di kehidupan sehari2, lebih 'besar' bisa berarti lebih 'kuat'. kuat bukan dalam otot ato tulang, tapi dalam posisi.
Misalnya orang kaya, orang yg berstatus dan berjabatan tinggi gitu.
Orang2 kayak gini yg cenderung survive.
Contoh nyata: calon wapres USA, Sarah Palin, yg menghabiskan 5 ato 6 digit US dollar buat beli baju for the sake of show off buat kampanye, biar keliatan keren gitu.
Trus Paris Hilton yg perawatan tubuhnya pasti mahal, barang2nya designer punya, mahal2, blah blah blah.
Plus industri perfilman Hollywood yg despite kesulitan ekonomi kayak gini masih bikin film yg berbudget astronomical (angkanya selangit gitu deh...)
Ketiga pihak di atas tampaknya sedikit sekali terpengaruh dengan global economic recession. Kayaknya kalo mereka biasa makan di restoran bintang5 dan belanja di toko2 berkelas, ga bakal dikurangin ato berganti pilihan di era kebokekan ini.

padahal coba bandingin sama banyak orang2 kecil, orang2 lemah. Yang kalo ga ada campur tangan dari luar (either pemerintah ato sukarelawan) susaaaah banget cari makan. boro2 sekolah. tiap hari adalah perjuangan antara hidup dan mati. contohnya rakyat2 di irak yg tak berdosa yg menjadi korban perang. Orang2 miskin di afrika, bahkan di indonesia (dan 3rd world countries lainnya) Para pemulung2 yg hidupnya tergantung banget sama belas kasihan Tuhan, alam sekitar dan orang2 sekitar. Hidup mereka jadi semakin buruk aja tuh gara2 resesi ekonomi. contohnya tukang ojek yg menderita gara2 harga bensin naek. orang2 yg dipecat dan bingung mau ngasi keluarganya makan apa? angin. dll.

Bahkan orang2 kayak gw (tergolong menengah kali ya) harus mengurut dada, kepala, pundak lutut kaki lutut kaki, gara2 resesi ekonomi ini. Kalo liat baju bagus, harus tarik napas, nyanyi lagu bintang kecil sambil muter2 di tiang kayak felem india, kemudian berbisik kepada diri sendiri "ooiii bokek nihh.....kasihanilah..." diiringi suara jeritan dari dompet gw "aaahh....gw kanker!!! kantong kering!!!!" Trus gw bertekad mau lebih jarang makan sushi (mahal sih), gantinya makan roti aja yg lebih murah...

Itupun baru sekarang. Gw gatau masa depan gw gimana. Pajak naik bikin harga barang naik. Harga barang naik bikin gw bokek. Soalnya banyak kebutuhan yg gak bisa diabaikan sih...mau gimana lagi? Di masa depan...apakah gw bisa menabung ato gw akan menjadi bokek dan mengemis kepada menteri pendidikan singapura plus kepala sekolah untuk dapat dana bantuan...tapi itu kurang penting

apakah orang2 yg miskin dan kelaparan akan mati semua? apakah mereka bisa hidup layak seperti manusia? ataukah mereka akan seperti rumput, yg kemaren lahir dan besok mati?
Bagaimanapun, mereka adalah orang lemah yang tak berdaya melawan hukum yg ada. Hukum rimba. The survival of the fittest. No. The survival of the richest. And the death of the poorest.

Life is soooo unfair....but what can we do?


sigh.....


zzz....

Tidak ada komentar: